Part 2. SAP yang tak kunjung selesai
Semua orang juga tahu kalau SAP tuh made in Germany dan orang juga tahu Lufthansa Technik (LHT) itu pelopornya SAP di bidang penerbangan, cuma yang gue surprise tuh ternyata SAP belum bisa nanganin semua Biz Processnya Maintenance bahkan di kandangnya sendiri. Jadi dari hasil kunjungan gue ini gue kaget banget liat berantakannnya IT-nya LHT…inget ukuran berantakan tentu dengan referensi organisasi se-beken LHT. Jadi jangan dengerin kata orang deh ..kecuali kata gue..he..he..he.. karena gue dah liat dengan mata kepala sendiri mana aja yang pake SAP dan mana yang nggak khususnya di bagian Engineering, Planning dan Material.
Jadi secara prinsip ada tiga sistem yang dipakai LHT selama ini : SAP, Oracle dan MS Access..kaget khan Access masih dipake…gue aja senyum2 liat Access masih berkeliaran di LHT sementara saat terakhir gue di GMF, gue and temen2 sibuk mindahin ke web base application…takut dibilang dah basi..he..he..he. Jadi ternyata SAP di LHT baru berhasil diimplementasi full di level Material Management dengan tambahan Project Management tuk ngontrol umur komponent dan Document Management tuk ngontrol AD/SB/EO…. nah sisanya tuh masih pakai sistem lama. Yang mayoritas berbasis Oracle. Sebagai info LHT ngga pakai AMOS..yang pakai AMOS tuh Condor..anak perusahaan Lufthansa.
Oke gue ulang satu-satu ya biar ngga bingung, so SAP dipakai untuk :
- Mencatat umur pesawat dan menghitung umur komponen terpasangnya
- Material Management mulai dari pengadaan component sampai management task untuk komponen.
- Documen management dari mulai AD/SB sampai EO
Nggak banyak khan yang pakai SAP…waktu gue coba korek alasannya karena pertimbangan cost di German mahal banget cost per jamnya tuk bayar programmer (minimal EUR 140/jam) dan resiko kegagalannya. Yang gue salut mereka tetep komit dg SAP walaupun dah lebih 15 tahun SAP coba dibangun..dan hasilnya masih segitu aja adanya. Sebenarnya mereka tuh dah nyaman dengan system yang ada mengingat banyaknya customer yang mereka handle jadi sangat beresiko kalau systemnya sampai error pada saat peralihan…makanya SAP dibangun dengan sangat hati-hati.
Jadi jantung pertahan mereka sebenarnya masih pada aplikasi berbasis Oracle yang mereka bangun sendiri dengan GUI-masih model lama. Oracle dipake di Maintenance Program, Pembuatan Jobcard (GATE), dan Planning (MOSES). Seperti dah gue ceritain sebelumnya kunci aplikasi maintenance mereka ada di pembuatan jobcard (GATE system)..salah aja buat jobcard maka akan salah kemana2 seterusnya. Sebagai contoh task komponen yg dikontrol di SAP juga dibuat berdasarkan Jobcard di Oracle berikut juga dengan jumlah komponen terpasangnya. Ini yang agak berbeda dengan Maintenix, kalau Maintenix task/job ikut sama komponennya.
Jadi Job card di-create secara manual dari maintenance program, semua interval jumlah komponen terpasang di cek secara manual ke IPC dan dibuatkan jobcard-nya. Item baik threshold ataupun repetitive intervalnya juga dibuat jobcardnya..nah apa yang sudah di buat jobcard dan di publish akan ditransfer seacra otomatis ke sistem planning mereka (MOSES). MOSES juga dapat input dari SAP untuk umur pesawatnya..nah dengan dua input satu interval dan satu umur objectnya (dalam hal ini pesawat) MOSES akan ngeluarin schedule baik yang mid term (180 days kedepan) maupun short term (30 days) untuk semua jobcard yang telah di publish.
Sementara untuk AD/SB, setelah menjadi EO akan dibuat jobcardnya terlebih dahulu baru setelah dipublish jobcardnya akan muncul di planning…dengan kata lain selama tidak ada jobcardnya ngga akan pernah muncul tuk schedule pelaksanaannya.
Jadi seperti yag gue singgung sebelumnya kata kunci ada di pembuatan Jobcard..dan seperti yang gue duga kalau Jobcard itu milik Engineering bukan Planning seperti di TLP GMF.
Nah untuk bisa dibaca customer buat short term planning, LHT ngeluarin yang namanya Maintenance Due List dua kali seminggu, formatnya semacam To Do List kalau di MS Outlook berikut prediksi tanggalnya yang merupakan hasil perhitungan antara umur pesawat yang dimasukin lewat SAP dan interval tasknya berikut status last accomplishmentnya ..dan ternyata bikinnya pakai MS Access dengan berdasarkan data yang ada di MOSES..kaget khan..dooorr….sama donk…LHT lebih prefer dengan Access tuk reporting karena lebih fleksibel.
Oh iya hal yang sama gue temuin di Component Reliability..walaupun dah di handle SAP sepenuhnya tuk management component ..ternyata reportingnya juga masih pakai MS Access……hidup Access…bahkan yang gue heran ada aplikasi data warehousing tuk komponen (tuk anaysis and statistik) masih pakai aplikasinya Oracle bukan pakai modulnya SAP…sayang khan?
Sementara untuk Aircraft Reliability mereka pakai full system di MS Access, SAP belum nyentuh sama sekali katanya. Yang lucu wakktu ngobrol sama Project Manager-nya Reliability..dia bilang dia sempet ngusulin Maintenix tuk gantiin aplikasi MS Access dan Oracle..tapi di tolak management dengan keputusan terusin pengembangan dalam SAP…ngakak dalam hati gue..persis banget kayak di GMF. Dan doi juga ngakuin Maintenix masih yang terbaik di bidang ini. Di Maintenix semua khan nyambung dan otaknya tuh di konsep Component Centric yang didalamnya ada maintenance program dan konfigurasi control..nah seperti kita tahu system dan pesawat itu definisinya cuma merupakan susunan gabungan dari komponen..jadi semua nyambung.
Di LHT kesalahan dari satu departemen akan berakibat kesalahan disistem berikutnya karena tidak semua automatis update..sebagai contoh kalau gue bikin modifikasi misalnya nambah jumlah komponen yg terinstall..nambah satu firex bottle misalnya…lalu orang jobcard lupa bikin task-nya..nah di komponent task pasti salah karena ngga akan kecatat task itu sementara jumlah komponenya kan terupdate dari input di SAP..khan jadi ngga match….nah kalau di konsep Maintenix pasti nyambung karena waktu update harus update komponennya dulu terus task apa yang berlaku.semu automatis.. Cuma disini perannya Germany Precision..mereka nge-guarantee kalau output Departemennya akurat…padahal sih..ngga juga tuh.
Gue sih terus terang aja nemuin banyak kesalahan dari yang mereka buat yang gue amatin hasil sistem yang modular tersebut alias tidak terintegrasi. Mulai dari prediksi maintenance yang salah, task komponen yang ngga ada lokasi di pesawatnya..banyak deh wong komplain gue selama tiga hari meeting ada 75 items. Cuma mereka janji mau benerin tuh semua.
Oh iya di LHT ada satu sistem yang bagus tuk ditiru..yaitu web portalnya..mereka sebut sebagai customer lounge..jadi gue bisa akses semua data gue lewat web…seperti jobcard, AD/Ststus, Reliability Report..tapi jangan kagum dulu karena kebanyakan yang ditaruh disitu tuh static report yang mesti diupload dulu secara manual..yah akibat karena sistem yang tidak terintegrasi itu. Contohnya AD/SB gue ngga bisa dapat laporan terkini..melainkan statik report yang diissue 6 bulan sekali, dan kalau mau liat status AD setelah itu harus masukin nomer AD satu2….ngga enak banget khan??? Reliability Report juga begitu..complete reportnya statis dalam pdf, searching pirep and delay ada ..tapi jauh dah sama bikininya Edy Noer di myfleet. Makanya waktu gue demoin apa yg pernah gue bikin di GMF mereka melongo..malahan sempet guyon wah bisa jadi konsultannya LHT…mau juga sih kalau gajinya sama dengan Q8. Buntutnya gue mau diajak jadi member Working group Reliabilitynya Airbus, orang LHT yang mau rekomendasiin…ayo ajah.
So tuk GMF kalau gue boleh komen…atau anjurin SAP disempurnain aja di level Material Management aja, dan untuk task dan konfigurasi semua bisa bikin aplikasi yang niru model Maintenix..gue pernah bikin prototype sama teman2 di EFMP…eh gimana tuh nasib aplikasi EFMP dah jalan belum?…Sayang kalau GMF buang waktu lagi..dah 6 tahun SAP dijalanin..nanti kalau dah jadi model integrasinya baru pelan2 dimigrasiin pakai SAP..jangan Big Bang deh…
Yang penting kita maintain dua sistem aja SAP dan satu lagi..entah apa namanya (semua Access, Excel..pindahin kesini)..biar cost of poor quality bisa diteken..terutama ngga babak belur kalau redelivery pesawat..he..he. Dengan sistem yg terintegrasi..kita bisa raih revenue sebanyak-banyaknya kayak LHT.
IT tuh bagi gue sama aja dengan kendaraannya perusahaan ..makin bagus dan cepat akan makin cepat juga majunya perusahaan. Jangan takut dan bukan ngga mungkin GMF bisa seperti Samsung yang sempet bikin Sony kalang kabut..bukan ngga mungkin GMF juga bisa ngalahin LHT minimal jadi MRO terbesar di southern hemisphere..seperti Garuda pada masa jayanya. Gue dukung 100%…dan ini bukan mimpi, tinggal niat dan usaha sekeras mungkin..jangan lupa Top Management tuk komit.

Pusing euy baca istilah2nya. Msh blm ngerti.
Btw, saya punya cita2 bekerja di GMF. he.he…
Salam kenal Pak,.
Comment by azki — January 9, 2007 @ 5:39 am
Terima kasih kepada pak ananta yang selalu membantu anak komara di teluknaga sehingga mereka menuju kerja yang nyata. selamat berkarya di kuwait.
Comment by mohamad kurdi — April 11, 2007 @ 7:22 pm
Ass. Pak gimana kel. di kwait..khususnya Aero dan Arian, apakah Aero sudah masuk sekolah formal dan sudah banyak temen disini, dan Arian disekolahnya berprestasi gak? Kapan nih rencananya pulang ke Indo.. jangan lupa bawa oleh-olehnya permadani dan lampu wasiat Aladin hehehe….
sekarang saya kerja di GMF di unit TLB SAP sampai bulan 30 september, uh.. ternyata SAP itu pusing banget ya Pak tapi alhammdulillah atas bantuan Pak Sukarman, Pak Erik dan Pak Anggono serta sedikit pengalaman saya di Digidat sangat membantu saya di SAP.Saya mulai mandiri dan sedang merenovasi rumah warisan ortu dari hasil gaji saya di GMF dan sedikit simpenan waktu saya bekerja di Digidat, rencananya rumah itu akan saya buat permanen, yaa walaupun agak lambat karena bulan ini saya beli bahan bangunan dan bulan depannya mulai pengerjaannya ” step by step” cukup pusing sih tapi mumpung masih muda juga tidak mo kalah sama eko yang sudah punya rumah sendiri, hehehe…!!!!doain ya pak semoga cepet selesai. salam buat Bu Uci, Aero, dan Arian
by
Rudholfo
Comment by Rudholfo — May 28, 2007 @ 8:43 pm
Salam kenal, pak.
saya sedang kuliah jurusan AME “M” di canada, saya punya bbrp pertanyaan buat bapak. Pertama, kalo saya harus pulang ke indo apakah GMF ato persh asing mau menerima saya? Kedua, saya lg mikir kalo plg indo saya digaji brp ya kira2? Also about the license, kalo saya misalkan sudah diterima dan kerja di GMF apakah expr saya yg saya tulis di logbook bisa saya transfer untuk dpt license di canada? Terakhir, untuk license apakah indonesia mengikuti system America (FAA) ato UK, AUS or CAN?
Terima kasih byk
Comment by handy — November 25, 2007 @ 11:59 pm
SAP mungkin secara overall ok karena nggak hanya konsen di aero.wajar lah kalo ada kekurangan but bisa diminimalisasi oleh para ABAPER untuk menambahkan modul modul yang kurang. untuk saat ini sistem full integrated ada di SAP n Oracle ( banyakan Akuisi people soft dan lain lain ), hmm kalo MICROSOFT Business belum sebesar SAP dan ORACLE dan kayaknya juga belum ada module untuk manufaktur.
Comment by jo — December 31, 2007 @ 2:49 am
Salut buat Mas Ananta yang udah share pengalaman di LHT terutama dalam hal implentasi SAPnya, sudah sejauh mana dan bagaimana hasilnya. Yg jelas gue jg udah baca2 sitem maintenix di webnya, baru baca2 doang sih, tapi dugaan gue maintenix lebih solid dan pas buat airline maintenance & engineering, terbukti kan dari cerita elo ternyata SAP di LHT belum sehebat bayangan gue. Udah pasti karena SAP sendiri untuk “Industry Solution - Aircraft maintenance & engineering” masih menyempurnakan terus dan mencari bentuk. Kalau maintenix kan memang udah sejak awalnya didisain spesifik buat aircraft maintenance & engineering.
Gue dukung elo masuk ke working group reliability airbus, ayo maju terus buat mas ananta.
Wassalam, IMAM
Comment by Imam — May 30, 2008 @ 2:16 am